Rapat di Atas Kapal Perang di Natuna, Jokowi
'Gertak' China
Reporter: Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia
Presiden Jokowi meninjau KRI Imam Bonjol usai
menggelar rapat soal Natuna di kapal perang itu. KRI
Imam Bonjol pekan lalu melepaskan tembakan ke
kapal China. (ANTARA/Setpres-Krishadiyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Republik
Indonesia Joko Widodo mengirim sinyal kuat kepada
pemerintah Republik Rakyat China terkait insiden
Natuna yang melibatkan kapal nelayan China dengan
kapal perang RI Imam Bonjol-383.
Protes China atas tertembaknya kapal ikan Han Tan
Cou oleh TNI Angkatan Laut pekan lalu, dijawab
Jokowi dengan terbang langsung ke Natuna hari ini,
Kamis (23/6).
Di perairan yang disebut China sebagai zona
perikanan tradisional mereka, Jokowi akan
menggelar rapat di atas KRI Imam Bonjol yang
melepas tembakan ke Han Tan Cou.
“Sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara,
Presiden ingin tunjukkan Natuna adalah bagian dari
kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia),” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Isyarat berang pemerintah Indonesia kepada China
kian jelas terlihat dari deretan pejabat tinggi yang
dibawa Jokowi ke Natuna. Di antara mereka ialah
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno
Marsudi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi
Pudjiastuti, Menteri ESDM Sudirman Said, Panglima
TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal
Badrodin Haiti.
Saat ini rombongan Presiden telah bertolak dari
Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim
Perdanakusuma, Jakarta, menuju Kabupaten Natuna
di Provinsi Kepulauan Riau, barat laut Kalimantan.
Pukul 11.00, rapat di atas kapal perang Imam Bonjol
akan membahas percepatan pembangunan di
Natuna –gerbang Republik Indonesia yang
berhadapan dengan wilayah sengketa Laut China
Selatan.
Panglima TNI menjamin kunjungan kerja Presiden ke
Natuna akan berlangsung lancar. “Pengamanan
sudah siap. Itu tanggung jawab TNI. Presiden ke
Natuna pasti aman. Itu wilayah kita sendiri kok.”
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyambut
gembira kedatangan Jokowi. “Agenda Presiden ke
Natuna sangat penting untuk mempercepat
pembangunan,” kata Kepala Biro Humas dan
Protokol Kepulauan Riau, Heri Mokhrizal, seperti
dilansir Antara.
Menurut Heri, ini kali pertama Jokowi berkunjung ke
Natuna. Selain menggelar rapat di atas KRI Imam
Bonjol, Presiden dan rombongan juga dijadwalkan
menyaksikan penenggelaman kapal asing yang
tertangkap mencuri ikan di perairan Natuna.
Presiden Jokowi saat memimpin rapat tentang
Natuna dengan para menteri dan pejabat negara di
KRI Imam Bonjol. (ANTARA/Setpres-Krishadiyanto)
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi I Bidang
Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan
pemerintah mesti menempuh jalur diplomasi damai
untuk menyelesaikan persoalan dengan China di
Natuna.
“Kita (Indonesia) harus memiliki efek deterrence
(gentar), dan efek deterrence yang baik ialah
diplomasi sekaligus penguatan pasukan (di Natuna),”
kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
itu di Jakarta.
Meski Jokowi menunjukkan kemarahan Indonesia
kepada China atas insiden berulang di Natuna, pada
saat yang sama pemerintah juga menegaskan ingin
tetap menjaga hubungan baik dengan China.
“(Penembakan ke kapal China) yang kami lakukan itu
sesuai prosedur internasional. Kami tetap ingin
bersahabat dengan Tiongkok. Tidak ada keinginan
kami melakukan tindakan konfrontatif kepada
siapapun,” kata Menko Luhut.
Senada, Menlu Retno berkata, “Komunikasi Indonesia
jalan terus dengan Tiongkok. Hubungan kami dengan
Tiongkok juga baik. Ini adalah masalah penegakan
hukum, bukan politik.”
Soal penegakan hukum itu, ujar Luhut, artinya
Indonesia akan menindak tegas kapal asing dari
negara manapun yang melakukan aktivitas bisnis di
dalam zona ekonomi eksklusif Indonesia, termasuk
perairan Natuna.
“Kami tidak mau kedaulatan kami diganggu
siapapun,” kata Luhut.
'Gertak' China
Reporter: Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia
Presiden Jokowi meninjau KRI Imam Bonjol usai
menggelar rapat soal Natuna di kapal perang itu. KRI
Imam Bonjol pekan lalu melepaskan tembakan ke
kapal China. (ANTARA/Setpres-Krishadiyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Republik
Indonesia Joko Widodo mengirim sinyal kuat kepada
pemerintah Republik Rakyat China terkait insiden
Natuna yang melibatkan kapal nelayan China dengan
kapal perang RI Imam Bonjol-383.
Protes China atas tertembaknya kapal ikan Han Tan
Cou oleh TNI Angkatan Laut pekan lalu, dijawab
Jokowi dengan terbang langsung ke Natuna hari ini,
Kamis (23/6).
Di perairan yang disebut China sebagai zona
perikanan tradisional mereka, Jokowi akan
menggelar rapat di atas KRI Imam Bonjol yang
melepas tembakan ke Han Tan Cou.
“Sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara,
Presiden ingin tunjukkan Natuna adalah bagian dari
kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia),” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Isyarat berang pemerintah Indonesia kepada China
kian jelas terlihat dari deretan pejabat tinggi yang
dibawa Jokowi ke Natuna. Di antara mereka ialah
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan
Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno
Marsudi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi
Pudjiastuti, Menteri ESDM Sudirman Said, Panglima
TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal
Badrodin Haiti.
Saat ini rombongan Presiden telah bertolak dari
Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim
Perdanakusuma, Jakarta, menuju Kabupaten Natuna
di Provinsi Kepulauan Riau, barat laut Kalimantan.
Pukul 11.00, rapat di atas kapal perang Imam Bonjol
akan membahas percepatan pembangunan di
Natuna –gerbang Republik Indonesia yang
berhadapan dengan wilayah sengketa Laut China
Selatan.
Panglima TNI menjamin kunjungan kerja Presiden ke
Natuna akan berlangsung lancar. “Pengamanan
sudah siap. Itu tanggung jawab TNI. Presiden ke
Natuna pasti aman. Itu wilayah kita sendiri kok.”
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menyambut
gembira kedatangan Jokowi. “Agenda Presiden ke
Natuna sangat penting untuk mempercepat
pembangunan,” kata Kepala Biro Humas dan
Protokol Kepulauan Riau, Heri Mokhrizal, seperti
dilansir Antara.
Menurut Heri, ini kali pertama Jokowi berkunjung ke
Natuna. Selain menggelar rapat di atas KRI Imam
Bonjol, Presiden dan rombongan juga dijadwalkan
menyaksikan penenggelaman kapal asing yang
tertangkap mencuri ikan di perairan Natuna.
Presiden Jokowi saat memimpin rapat tentang
Natuna dengan para menteri dan pejabat negara di
KRI Imam Bonjol. (ANTARA/Setpres-Krishadiyanto)
Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi I Bidang
Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan
pemerintah mesti menempuh jalur diplomasi damai
untuk menyelesaikan persoalan dengan China di
Natuna.
“Kita (Indonesia) harus memiliki efek deterrence
(gentar), dan efek deterrence yang baik ialah
diplomasi sekaligus penguatan pasukan (di Natuna),”
kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
itu di Jakarta.
Meski Jokowi menunjukkan kemarahan Indonesia
kepada China atas insiden berulang di Natuna, pada
saat yang sama pemerintah juga menegaskan ingin
tetap menjaga hubungan baik dengan China.
“(Penembakan ke kapal China) yang kami lakukan itu
sesuai prosedur internasional. Kami tetap ingin
bersahabat dengan Tiongkok. Tidak ada keinginan
kami melakukan tindakan konfrontatif kepada
siapapun,” kata Menko Luhut.
Senada, Menlu Retno berkata, “Komunikasi Indonesia
jalan terus dengan Tiongkok. Hubungan kami dengan
Tiongkok juga baik. Ini adalah masalah penegakan
hukum, bukan politik.”
Soal penegakan hukum itu, ujar Luhut, artinya
Indonesia akan menindak tegas kapal asing dari
negara manapun yang melakukan aktivitas bisnis di
dalam zona ekonomi eksklusif Indonesia, termasuk
perairan Natuna.
“Kami tidak mau kedaulatan kami diganggu
siapapun,” kata Luhut.
Foto: thinkstock

Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom




Foto: Jumpa pers penangkapan kapal ikan China di Mako Koarmabar (Kartika/detikcom)
Foto: Jumpa pers penangkapan kapal ikan China di Mako Koarmabar (Kartika/detikcom)
KRI Imam Bonjol tangkap kapal ikan China di Natuna (Foto: dok TNI AL)