OPINI-Jakarta dalam Rekayasa Opini Menuju Kecurangan

Kamis, 26 Januari 2017

Jakarta dalam Rekayasa Opini Menuju Kecurangan

konfrontasi.com
Jan 26, 2017 10:18 AM
Oleh: Ferdinand Hutahaean
RUMAH AMANAH RAKYAT
Jakarta tampaknya menjadi pertaruhan hidup matinya rejim berkuasa saat ini. Jakarta sepertinya menjadi kunci akhir kelangsungan berkuasanya rejim saat ini. Tidak dapat dinafikan bagaimana posisi dan sikap rejim berkuasa dalam Pilkada Jakarta saat ini adalah memang terindikasi berpihak kepada salah satu pasangan calon yaitu pasangan petahana.
Pilkada Jakarta saat ini patut diduga akan berlangsung curang karena dicurangi. Pasangan Ahok Djarot yang terlihat memang sudah tidak disukai oleh publik masyarakat Jakarta dan memang tampaknya akan kalah dalam Pilkada ini memaksa oknum penguasa untuk melakukan segala hal untuk membalikkan situasi. Saya melihat dukungan penguasa itu memang bukan sikap resmi pemerintah, akan tetapi sikap oknum-oknum yang kebetulan sedang berkuasa. Mereka ini akan menggunakan kekuasaan ditangannya untuk memenangkan calon yang didukungnya bahkan hingga menghianati demokrasi serta memanipulasi suara rakyat.
Memasuki fase kritis manakala pasangan Nomor 1 Agus Silvy terus memimpin memenangkan hati rakyat dan lembaga-lembaga survay secara mutlak menempatkan Agus Silvy pada urutan pertama yang akan memenangkan Pilkada, muncullah lembaga- lembaga survay yang secara berani merilis hasil survay yang berbeda dengan mayoritas lembaga survay lain yang kredibilitasnya lebih teruji. Ini aneh dan janggal, tanpa ada sesuatu yang signifikan merubah opini publik, tapi hasil survay bisa berbeda.
Munculnya sedikit lembaga survay yang merilis hasil survaynya dan menempatkan Pasangan Ahok Djarot sebagai pemenang Pilkada adalah patut dicurigai sebagai bagian dari upaya untuk membangun opini ditengah publik dan kemudian menjadi justifikasi pembenaran bila kelak suara rakyat dimanipulasi memenangkan yang kalah. Memenangkan yang kalah itu contohnya adalah, misalkan pasangan Ahok Djarot ketika ternyata kalah secara faktual dilapangan kemudian dengan kecurangan berbalik menjadi pemenang. Dan bermodal hasil survay yang kredibilitasnya diragukan itu, pelaku kecurangan akan terus bertahan dengan kebohongan dan menggunakan hasil survay yang direkayasa itu sebagai pembenaran. Ini adalah kejahatan demokrasi yang luar biasa bila terjadi. Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, maka bila penguasa memanipulasi suara rakyat maka sama saja penguasa memanipulasi suara Tuhan.
Nampaknya memang upaya kecurangan itu mulai dibangun dengan seksama. Kemarin dan hingga hari ini beredar di WAG group sebuah capture pembicaraan WA seorang pemilik lembaga survay yang entah benar atau tidak, percakapan itu bahkan menyebut nama seorang pejabat penguasa didalamnya. Percakapan WA itu jelas menunjukkan adanya upaya rekayasa hasil survay pilkada bahkan memaksa supaya pasangan calon No 2 dibuat hingga 40% lebih. Sekali lagi, apakah percakapan itu benar atau tidak, kita tidak tahu. Terlepas benar atau tidak, caputure itu sangat patut dijadikan bukti bahwa memang saat ini Jakarta sedang berada dalam rekayasa opini menuju kecurangan. Mengapa mereka perlu curang? Karena memang mereka para pelaku itu sudah menyadari bahwa pasangan calon yang didukungnya sudah kalah.
Kami mengingatkan pertama kepada rejim berkuasa agar berhenti melakukan segala upaya yang merusak demokrasi dan memanipulasi suara rakyat. Berhenti menggunakan kekuasaan untuk menantang membalikkan Suara Tuhan karena Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Jangan terinspirasi Ahok dalam pernyataannya di sebuah acara stasiun televisi yang akan melawan Tuhan kalau Tuhan salah, padahal Tuhan tidak pernah salah.
Kedua, kami juga mengingatkan kepada publik rakyat Jakarta, agar mewaspadai segala bentuk pola kecurangan dilapangan, jangan sampai keinginan publik rakyat Jakarta untuk mendapatkan Gubernur baru dimaipulasi karena kecurangan. Publik harus melawan segala bentuk kecurangan demi tegaknya nilai demokrasi.[***]


OPINI-Sudah waktunya mayoritas berhenti membisu

Sudah waktunya mayoritas berhenti membisu

beritagar.id
Jan 24, 2017 8:23 PM
Situasi sosial politik kita belakangan ini menuntut kepedulian dan partisipasi yang lebih aktif dari seluruh warga negara
Situasi sosial politik kita belakangan ini menuntut kepedulian dan partisipasi yang lebih aktif dari seluruh warga negara
Lama tidak terdengar dalam perbincangan politik kita, frasa itu muncul kembali. Silent majority. Mayoritas yang diam.
Frasa itu dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat Richard Nixon dalam pidatonya pada 3 November 1969. Dalam pidato itu Nixon meminta dukungan warga AS atas kebijakannya dalam perang Vietnam.
Warga AS yang secara khusus dimintai dukungan oleh Nixon dalam pidato itu adalah "the great silent majority of my fellow Americans". Silent majority yang dimaksud Nixon adalah warga AS yang saat itu tidak ikut demonstrasi anti perang vietnam, tidak ikut-ikutan budaya tanding, dan tidak terlibat dalam wacana publik kala itu.
Silent majority adalah kelompok warga negara yang tidak mengekspresikan pendapatnya secara terbuka--biasanya dalam urusan-urusan sosial politik.
Dalam dua minggu ini frasa silent majority terdengar setidaknya dua kali dalam percakapan politik di negeri ini. Pertama, Megawati Soekarnoputri menyebutnya dalam pidato saat hari ulang tahun PDI Perjuangan 10 Januari 2017.
Kedua, Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian menyebutnya dalam sebuah diskusi bertajuk "Membedah Gerakan Radikalisme-Terorisme dan Solusinya" di Jakarta Kamis (19/1/2017) lalu.
Dalam pidato yang penuh kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai "ideologi tertutup", Presiden ke-5 Republik Indonesia itu menyerukan agar silent majority bangkit dan menggalang kekuatan.
"Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika," kata Megawati.
Seruan Megawati yang merupakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan itu terkait dengan sikap dan tindakan intoleran yang cenderung muncul dalam kehidupan sosial politik masyarakat akhir-akhir ini.
Pada kesempatan lain, dalam konteks penanggulangan radikalisme, Jenderal Tito menyebutkan, narasi radikal bisa dimoderasi dengan menyebarkan ideologi tandingan. Sambil menyebut konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama, Tito meyakini jika ideologi tandingan tersebut disebarkan secara intensif maka upaya radikalisasi kelompok teroris dapat diredam.
Sayangnya, menurut Tito, penyebaran ideologi tandingan tersebut berhadapan dengan fenomena silent majority. Meski berjumlah banyak, kelompok moderat cenderung diam ketika melihat paham radikalisme menyebar di masyarakat.
Pidato Megawati dan pemaparan Tito--setidaknya--mencoba menggambarkan dua hal.
Pertama, ada lebih banyak warga negara yang mengambil sikap diam. Mereka tidak memperlihatkan pendapatnya secara terbuka.
Kedua, kegaduhan terkait sikap dan tindakan intoleran di masyarakat kita belakangan ini berasal dari kelompok kecil yang lantang menyuarakan sikapnya (vocal minority). Sama sekali bukan kelompok besar; dan tidak mewakili pandangan mayoritas warga negara.
Sebagai kelompok kecil, vocal minority itu mencari cara yang bisa memperbesar gema suaranya. Merebut perhatian di jalanan lewat demonstrasi, mencari panggung di media massa utama, melakukan rekayasa teknis dan sosial di media sosial, adalah beberapa taktik yang biasa dilakukan untuk menyesatkan persepsi tentang besarnya pengaruh kelompok kecil tersebut.
Sementara itu, harus diakui, lebih banyak warga negara kita yang memilih berdiam diri. Mereka tidak memperlihatkan sikapnya secara terbuka atas masalah-masalah sosial politik yang nyata-nyata hadir di tengah mereka.
Mereka tidak memperlihatkan keberpihakannya secara terang-terangan pada saat ada kontestasi politik. Bahkan mereka menghindarkan dari keterlibatan secara terbuka, bahkan untuk sekadar bersuara di depan umum. Mereka tampak seperti membisu. Merekalah silent majority itu.
Dengan jumlahnya yang besar, kelompok yang cenderung berdiam diri itu tentu bisa memengaruhi konstelasi politik. Silent majority bisa dengan mudah diklaim sebagai bagian dari pengikut oleh vocal minority mana pun. Kelompok kecil itu dengan mudah bisa mengaku-aku mewakili kelompok besar yang diam itu.
Pada saat yang sama sikap berdiam diri dari silent majority bisa sangat fatalistik. Terutama jika terkait dengan kencederungan-kecenderungan buruk dalam masyarakat kita. Ketika kita berdiam diri terhadap ketidakadilan, misal, bukankah itu berarti kita rela dan bahkan melegitimasi ketidakadilan juga?
Sikap diam dari silent majority tidaklah identik dengan sikap apatis. Di dalamnya barangkali memang ada orang yang bersikap apatis. Yakni mereka yang merasa tidak bisa ikut menentukan arah masyarakatnya; yang merasa masalah-masalah sosial politik di sekitarnya bukan sebagai urusannya; yang merasa masalah sosial tidak akan memengaruhi hidupnya.
Namun tidak sedikit orang yang sebenarnya punya kepedulian besar terhadap masalah sosial politik namun tetap berdiam diri. Yakni mereka yang merasa akan repot dan lelah jika menyuarakan diri secara terbuka; yang merasa cukup hanya dengan membatin saja.
Situasi sosial politik kita belakangan ini menuntut kepedulian dan partisipasi yang lebih aktif dari seluruh warga negara. Partisipasi politik itu bukan saja perlu diperlihatkan dalam kehadiran di tempat pemungutan suara saat pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah; melainkan juga diperlihatkan dalam keterbukaan bersuara dan menyatakan sikapnya atas suatu wacana.
Kemauan warga negara untuk terlibat dan terbuka menyatakan sikap politik sangat dibutuhkan untuk merawat kehidupan politik yang sehat di negara ini. Semakin sedikit mereka yang membisu, semakin sedikit pula peluang kepentingan politik manapun untuk mengaku-aku mewakili mayoritas warga negara.
Jika mayoritas warga negara mau keluar dari sikap membisunya, beragam klaim kelompok kecil yang vokal itu akan segera terlihat wajah aslinya sebagai gertak sambal belaka.
Dorongan agar berhenti sebagai silent majority itu perlu dilakukan oleh seluruh elemen sosial politik yang percaya kepada demokrasi dan konstitusi. Salah satu faktor pendorong itu adalah penegakan hukum.
Penegakan hukum bisa memberikan rasa aman, kesetaraan, dan kepastian kepada warga negara. Dengan jaminan itu, tak ada alasan lagi bagi mayoritas untuk terus membisu.


OPINI-Mengapa Pengikut Rizieq Kian Bertambah? Ini Jawaban Pengamat

Mengapa Pengikut Rizieq Kian Bertambah? Ini Jawaban Pengamat

pekanbaru.tribunnews.com
Jan 25, 2017 8:08 PM
TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA -  Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fachri Ali menilai masyarakat kian akrab dengan nama Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
Menurut Fachri, ini disebabkan sosok Rizieq yang dianggap ditunggu umat Islam, di tengah minimnya kepedulian kelompok elite terhadap masyarakat.
Rizieq dinilai kerap menanggapi kebijakan pemerintah, yang kemudian direspons positif oleh pengikutnya.
Kini, pengikutnya diprediksi semakin banyak jumlahnya.
"Apa yang dilakukan Rizieq mengkonsentrasikan kekuatan," ujar Fachri dalam seminar bertajuk "Pergeseran Kepemimpinan Islam" di Univeritas Paramadina, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).
Menurut Fachri, sejumlah partai yang ada saat ini telah dikuasi kalangan elite.
Kondisi ini menimbulkan antipati dari masyarakat terhadap pemerintah.
Di waktu yang bersamaan, muncullah Rizieq yang kerap merespons pemerintah.
Oleh karena itu, aksi pada 4 November dan 2 Desember menyita perhatian publik yang sangat besar.
Ia melanjutkan, hal hampir serupa sebelumnya juga pernah terjadi, yakni saat Joko Widodo (Jokowi) belum menjadi presiden.
Jokowi yang saat itu banyak didukung masyarakat diharapkan dapat meng-counter para elite yang berkuasa.
"Keterpilihan Jokowi adalah pemilihan terdashyat mengalahkan elite. Tapi sekarang? " kata dia.
Menurut Fachri, popularitas Rizieq menjadi fenomena baru untuk dikaji lebih jauh.
"Apakah ini merupakan pergeseran kepemimpinan Islam?" ujarnya.
(Kompas/Fachri Fachrudin)


HUKUM-Berita Hari Ini: Rizieq Shihab Tak Ditetapkan sebagai Tersangka, Ini Alasan Polda Jabar!

Senin, 23 Januari 2017

Berita Hari Ini: Rizieq Shihab Tak Ditetapkan sebagai Tersangka, Ini Alasan Polda Jabar!

smeaker.com
Jan 24, 2017 7:54 AM

Rizieq Shihab Tak Ditetapkan sebagai Tersangka, Ini Alasan Polda Jabar!

Smeaker.com – Hari Senin, 23 Januari 2017 pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rezieq Shihab datang memenuhi panggilan Mapolda Metro Jaya. Dalam pemanggilan tersebut dilakukan penyidikan terhadap Rezieq Shihab tentang dugaan pelecehan lambang negara dan Pancasila.
Penyidikan dilakukan oleh pihak kepolisian Polda Jawa Barat  pagi dan selesai pada Senin malam. Sebelumnya Rizieq Shihab statusnya msih menjadi saksi dalam kasus tersebut. Dan rencana penyidikan kalai ini akan menaikan statusnya menjadi tersangka.
Namun ternyata hasil dari penyidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya tersebut belum menaikan status Habib Rezieq Shihab sebagai tersangka. Pihak penyidik yang menangani kasus tersebut harus membuktikan pernyataan Rizieq dalam proses pemeriksaan sebelumnya.
Proses pemeriksaan sebelumnya dilakukan pada tanggal 12 Januari 2017. Pada penyidikan kali ini Habib Rezieq mengaku kalau orang yang berada dalam rekaman video yang berceramah tentang Pancasila yang dijadikan alat bukti dalam kasusnya saat ini. Habib merasa seharusnya yang dijdikan alat bukti ialah dirinya.
Berita Hari Ini: Rizieq Shihab Tak Ditetapkan sebagai Tersangka, Ini Alasan Polda Jabar!
Copyright ©suara netizen
Seperti halnya yang dijelaskan oleh Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus saat ditemui di Markas Polda Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin malam. Dia menjelaskan ‘ Pada saaat pemeriksaan tersebut Rezieq Shihab sempat berucap tidak mengakui, dia mengatakan kalau itu bukan dirinya’.
Dalam pemeriksaan penyidik kali ini pimpinan FPI tersebut juga menyangkal tentang video yang dijadikan bukti oleh penyidik. Menurutnya video yang dijadikan bukti itu sudah diedit untuk memenjarakan dirinya.Setelah ini kemukinan besar penyidik akan menghadirkan beberapa saksi yang saat itu berada di tempat ceramah Rezieq Shihab.
Pihak penyidik akan menghadirkan saksi yang hadir dalam acara ceramah tepatnya di lapangan , Gasibu Kota Bandung. Yusri mengatakan ‘ Perlu dihadirkan saksi  ditempat kejadian perkara untuk meyakinkan ada kegiatan tersebut. Saksi yang dihadirkan yang berada langsung di Gasibu waktu itu’.
Pihak penyidik sebenarnya sudah mempunyai bukti yang cukup kuat untuk menaikan status Rezieq Shihab menjadi tersangka. Namun Polda metro Jaya tidak mau terburu-buru mengmbil langkah karena dalam penyidikan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan juga profesional.
Sementara itu setelah penyidikan kali ini pihak penyidik akan mengumpulkan bukti dari para saksi. Setelahnya jika sejumlah saksi dan bukti yang dibutuhkan dirasa lengkap penyidik Polda Metro Jaya dalam pekan ini akan kembali melakukan gelar perkara.


INTERNASIONAL-Baru Tiga Hari Jadi Presiden AS, Trump Sudah Langgar Konstitusi

Baru Tiga Hari Jadi Presiden AS, Trump Sudah Langgar Konstitusi

m.merdeka.com
Jan 24, 2017 11:53 AM
Kemesraan Donald Trump dan istri usai pelantikan. ©2017 REUTERS/Yuri Gripas
Merdeka.com - Tim ahli hukum dan etik kemarin mengajukan tuntutan terhadap Presiden Donald Trump ke pengadilan federal karena menilai bisnis Trump di luar negeri sudah melanggar Konstitusi. Aturan konstitusi AS menyatakan presiden dilarang meraup keuntungan bisnis dari pemerintah luar negeri.
Tim ahli itu mengajukan permohonan agar pengadilan menghentikan Presiden Trump dari melanggar Konstitusi karena menerima keuntungan bisnis dari pemerintah luar negeri.
"Ketika dia menjadi presiden dan melakukan perjanjian perdagangan dengan negara lain, maka rakyat Amerika tidak bakal tahu apakah dia juga berpikir untuk meraih keuntungan buat bisnisnya," kata tim tersebut dalam tuntutannya, seperti dilansir situs NPR.org, Senin (23/1).
Di antara salah satu anggota tim ahli itu adalah mantan penasihat etik Gedung Putih pada masa Presiden George W. Bush, Richard Painter.
"Hanya beberapa blok saja dari Gedung Putih, ada Trump Hotel. Selama ini ada kontroversi yang menyebut hotel itu menekan pemerintah untuk meninggalkan hotel lain di Washington supaya datang ke hotel Trump. Meski tuduhan itu belum terbukti, Trump Hotel di D.C tentu mencari keuntungan bisnis dari pemerintah luar negeri. Saat Trump menjadi presiden dan sudah diambil sumpahnya maka itu menjadi pelanggaran terhadap Konstitusi," kata mantan penasihat etik Presiden Barack Obama, Norman Eisen.


MEDSOS-Heboh Cuitan SBY, Netizen Ramai Bikin Parodi di Twitter

Heboh Cuitan SBY, Netizen Ramai Bikin Parodi di Twitter

harianbernas.com
Jan 23, 2017 10:00 AM
JAKARTA, HarianBernas.com – Cuitan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di akun Twitter miliknya mengundang perhatian publik. Dalam akun Twitter @SBYudhoyono, Jumat (20/1/17), SBY menuliskan status yang menyebut nama Tuhan dan menginformasikan kondisi negara Indonesia saat ini.
"Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*," cuit SBY.
Cuitan SBY itu di retweet lebih dari 14.000 pengguna Twitter. Tak sedikit orang yang langsung merespon cuitan SBY bernada keluhan itu. Salah satunya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menanggapi tulisan SBY.
"Twitter itu sifatnya pendapat pribadi. Ya silakan saja, bukan untuk sependapat atau tidak," kata Kalla di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/1/17).
Kegundahan SBY melihat kondisi Tanah Air juga memicu respon dari netizen hingga muncul parodi tweet seperti cuitan SBY. Begini cuitan netizen:
“Ya Allah, Tuhan YME. Kampus kok jadi begini? Juru nyiyir skripsi berkuasa dan mahasiswa tua merajalela,” tulis @rojopurwo.
“Ya Allah, Tuhan YME. Malem minggu kok jadi begini. Mantan & Org pacaran berkuasa merajalela. Kapan Yang jomblo & yg lemah menang? *SBY*,” tulis @radyapustaka.
“Ya Allah, Tuhan YME. Kok sudah senin lagi? Kapan kalender kami diisi dengan liburan sebulan penuh?
*SULUR*,” tulis pemilik akun @karanganyarku.
“Ya Allah. Tuhan YME, Mengapa kau berikan liburan ini tanpa memberikan uang jajan? Bantu sadarkan orang tuaku Ya Allah,” cuit @baihaqirizky.


SELEBRITY-Kiwil Ikut Demo Bela Ulama: Kalau Habib Rizieq Ditahan Saya Siap Menggantikan

Kiwil Ikut Demo Bela Ulama: Kalau Habib Rizieq Ditahan Saya Siap Menggantikan

assajidin.com
Jan 23, 2017 9:00 PM
Kiwil saat ikut demo 411
JAKARTA, AsSAJIDIN.COm – Pelawak Kiwil ikut terlibat dalam aksi demonstrasi terkait pemeriksaan Rizieq Syihab di Polda Metro Jaya, Senin (23/1/2017). Bahkan, Kiwil pun berkesempatan melakukan orasi di atas mobil komando dan menyampaikan alasannya terlibat dalam aksi.
Pelawak yang khas dengan suara Alm KH Zainuddin MZ itu terlihat dengan mengenakan kaos hitam dan peci putih. Kedatangannya sontak menarik perhatian sebagian massa aksi.
“Miris saya. Saya mewakili teman-teman di entertain, entertain juga Islam. Menangis kita diadu domba. Saya kadang menangis. Saya ikut aksi bela Islam 1, ikut aksi bela Islam 2, ikut aksi bela Islam 3 ikut, karena Allah,” kata Kiwil dalam orasinya, seperti dikutip Assajidin.com dari jurnas.co.id.
Ia mengatakan dirinya sangat merasa kecewa dengan umat Islam yang gampang terpecah-belah oleh politik. Padahal, kata dia, umat Islam wajib membela ulama sebab mereka memiliki peran penting dalam kelangsungan berbangsa di Indonesia.
“Kiwil besar karena ulama, Kiwil mengenal Tuhan karena ulama, kita mengenal Allah karena wasilanya Ulama, kemerdekaan karena ulama,” tegasnya.
Komedian yang bernama asli Wildan Delta itu bahkan siap menggantikan Rizieq di penjara jika pimpinan FPI itu ditahan karena kasus yang kini menjeratnya.
“Jika Habib Rizieq ditahan, saya siap menggantikan,” katanya.
Kiwil, lahir di Jakarta, 10 Agustus 1972, adalah pelawak dan dan aktor berdarah Minangkabau. Sempat berpoligami dengan memiliki dua istri.
Kiwil menikah dengan istri pertamanya, Rochimah, pada 28 Februari 1998 dan dikaruniai 4 anak.
Pada tanggal 23 Februari 2011 Kiwil menjatuhkan Talak Dua kepada istri keduanya, Meggy Wulandari. Tak lama berselang, Kiwil juga menjatuhkan Talak Dua kepada istri pertamanya, Rochimah.(*)

Comments

comments


NUSANTARA-Taufik Ismail: Fitnah dan Kriminalisasi Ulama Mengulang Memori 1960-an

Taufik Ismail: Fitnah dan Kriminalisasi Ulama Mengulang Memori 1960-an

republika.co.id
Jan 22, 2017 5:08 PM
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sastrawan Taufik Ismail angkat bicara terkait kondisi kebangsaan yang terjadi saat ini. Menurut Taufik, situasi banyak ulama menerima fitnah dan kriminalisasi merupakan pengulangan apa yang dilakukan oleh komunis pada tahun 60-an.
“Apa yang mereka lakukan sekarang pengulangan,” ujar Taufik dalam diskusi Aksi Bela Islam dan Ulama/Aktivis Islam Hadapi Kriminalisasi, di Masjid Baiturrahman, Jalan Dr Saharjo, Menteng Atas, Jakarta, Ahad (22/1).
Taufik menilai, ada kesamaan kondisi saat ini dengan usaha komunis ingin merebut kekuasaan. Seperti banyak pemimpin Islam yang difitnah dan berusaha memasukkan mereka ke dalam penjara.
Pada masa 60-an, kata dia, mereka berhasil memenjarakan pemimpin dan aktivis Islam seperti Buya Hamka dan Isa Anshary. Untuk itu, Taufik menegaskan, banyak cara yang dilakukan oleh komunis agar bisa merebut kekuasaan. “Sama dengan sekarang, berbagai macam alasan dicari,” katanya.
Menurut Taufik, komunis selalu gagal merebut kekuasaan pada tahun 60-an. Namun, kata Taufik, mereka tetap berusaha agar usahanya mencapai keberhasilan. 
Seperti diketahui belakangan ini banyak fitnah ditujukan kepada ulama atau pemimpin umat dan aktivis Islam. Bahkan, kata dia, ada yang yang sampai menjurus ke kriminalisasi.


ISLAM-Membuka Tabir Bangsa Jin

Membuka Tabir Bangsa Jin

m.republika.co.id
Jan 24, 2017 9:04 AM
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Perbincangan soal jin dan dunia mereka, seakan tak pernah ada habisnya. Penuh misteri. Ada banyak hal yang belum terungkap dan masih menyisakan tanda tanya besar. Berbagai upaya di level akademik atau observasi langsung dilakukan demi menjawab segudang pertanyaan tentang bangsa jin dan hakikat mereka.
Kitab yang ditulis Badruddin bin Abdullah as-Syibly, yang berjudul Ajaib wa Gharaib al-Jin ini, adalah entri penting yanng memperluas cakrawala seputar jin. Kitab yang manuskripnya ditemukan pertama kali dengan judul Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jan ini, memuat beberapa bahasan penting yang menjawab secara fundamental apa pun terkait bangsa halus tersebut.
Inilah yang melatarbelakangi sebagian kalangan, mendaulat kitab karangan tokoh yang juga dikenal sebagai qadi itu sebagai referensi terpenting, bahkan kitab paling komprehensif seputar jin yang pernah ditulis pada Abad Pertengahan.
Dalam kitab yang dicetak oleh al-Azhar, Mesir pada 1358 M dengan judul  Akam al-Marjan fi Gharaib al-Akhbar  wa Ahkam al-Jan dibeberkan secara lugas berbagai jawaban atas pertanyaan seputar Jin. Syekh Badruddin yang bermazhab Hanafi itu mengisahkan, mengapa ia tertarik membahas persoalan jin? Ini tak lain didorong munculnya perdebatan tentang pernikahan antara manusia dan jin pada masa itu. Saya pun tergerak menulis kitab yang pada masa itu dibilang asing ini, kata dia dalam mukadimah.
Hal mendasar yang dicoba diyakinkan oleh Syekh Badruddin adalah keberadaan jin itu sendiri. Sosok yang wafat pada 729 H ini menegaskan keberadaan jin. Secara logika dan rasionalitas, serta tentu didukung dengan dalil tekstual baik dari Alquran dan sunah, keberadaan jin tidak bisa dinafikan. Mereka ada hidup di alam lain, yang berbeda dengan dunia manusia.
Ia menepis asumsi para filsuf dan sebagian cendekiawan Muslim dari Sekte Qadariyah dan mayoritas Mu'tazilah yang enggan percaya keberadaan jin. Bukan berarti mereka tak kasat mata dan tak teraba indera, lantas mereka tak ada. Banyak bukti baik berupa dalil tekstual maupun konsensus ulama sejak masa sahabat hingga tabiin yang menguatkan keberadaan jin.
Muncul pertanyaan berikutnya, yaitu kapankah jin diciptakan? Syekh Badruddin mengutip pendapat tokoh salaf. Di antaranya Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia mengatakan, Allah menciptakan jin 2000 tahun sebelum menciptakan Adam dan keturunannya. Jin didaulat tinggal dan mengurus bumi. Sedangkan, para malaikat menghuni langit dengan kualitas iman dan amal saleh yang jauh di atas bangsa Jin.
Di bagian selanjutnya, Syekh Badruddin menjelaskan, bahan penciptaan jin. Jika manusia tercipta dari sari pati tanah, bangsa jin tercipta dari api neraka. Menurut Qadi Abd al-Jabbar, argumentasi atas fakta ini sangat tekstual. Ini merujuk antara lain surah al-Hijr ayat ke-27 dan surah ar-Rahman ayat ke-15.
Karena itulah, fisik jin sangat halus dan bahkan, transparan tidak kasat mata. Mereka melihat manusia, tetapi manusia tak dapat mengindera mereka secara umum. Kendati demikian, ia mempunyai kemampuan menjelma dan berubah wujud dalam bentuk makhluk nyata, seperti binatang atau bahkan manusia.
Ini seperti yang pernah terjadi ketika jin dengan jenis setan menjelma menjadi Suraqah bin Malik bin Ja'syam lalu mendatangi kafir Quraisy, ketika mereka tengah bermusyawarah untuk terjun dalam Perang Badar. Peristiwa tersebut terekam dalam Alquran surah al-Anfal ayat ke-48.
Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu".
Tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.
Fakta yang tak kalah menarik dalam karya Syekh Badruddin yang bercorak hadis tekstual ini ialah, aktivitas jin pada dasarnya serupa dengan manusia. Mereka makan, minum, tidur, dan beranak-pinak. Kendati para ulama tidak satu pendapat, ihwal apa jenis makanan mereka. Ada yang mengatakan, di antara makanan jin adalah segala hal yang tidak disembelih dengan asma Allah.

Ada pula yang mengatakan, menu favorit jin adalah tulang belulang. Berbeda dengan manusia dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW, bangsa jin makan dan minum menggunakan tangan kiri. Sementara kita, umat Islam diajarkan menggunakan tangan kanan untuk kedua aktivitas tersebut.

Kesamaan tersebut bukan hanya soal kebutuhan biologis sehari-hari, melainkan soal aspek ritual, pada dasarnya bangsa jin juga mendapat perintah yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT, seperti manusia. Mereka juga mendapat perintah dan larangan. Tidak menyekutukan Allah misalnya, dan perintah berbuat baik serta larangan melakukan maksiat. Kendati demikian, ulama sepakat, Allah tidak pernah mengutus rasul dari bangsa jin. Para rasul hanya berasal dari bangsa manusia.

Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Alquran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Tuhan kami. (QS al-Jin [72]: 1-2).
Aura mistis begitu melekat begitu bersinggungan atau sekadar membahas jin, setan, makluk halus, atau mereka yang sejenis. Bahkan,  sering kali kita manusia dibuat takut dan tak berani bertatap muka.

Padahal, tahukah Anda, jika ternyata makhluk halus dari bangsa jin itu justru takut dengan kita, umat manusia. Ini dengan catatan bila kita memiliki keberanian yang ditopang dengan iman kuat terhadap Allah SWT.

Kisah Mujahid bin Jabir, tokoh terkemuka generasi tabiin ini menegaskan fakta tersebut. Cerita ini seperti dinukilkan dari kitab Gharaib wa 'Ajaib al-Jin karangan Dalam kitab tersebut, seperti diriwayatkan dari Ibn Abi ad-Dunya, Mujahid mengisahkan, suatu ketika ia hendak melaksanakan shalat pada pertengahan malam.

Belum juga melakukan takbiratul ihram, tiba-tiba sosok misterius seusia anak remaja muncul tepat di depannya. Spontan, Mujahid bergegas hendak menangkapnya.

Namun, sosok yang ternyata adalah jin tersebut berdiri lalu loncat. Saat hendak kabur itulah, ia terjatuh di belakang dinding, hingga suaranya terdengar keras. Ketika itu juga ia tidak kembali lagi, ujar Mujahid.

Ketahuilah mereka itu sebenarnya takut kalian, sebagaimana kalian takut mereka, kata Mujahid lagi.

Penegasan lain juga disampaikan Yahya bin al-Jazzar. Ia melihat Abu Syur'ah takut memasuki toilet yang berada di luar rumah pada tengah malam. Yahya pun memintanya agar tak takut. Sesungguhnya yang engkau takuti itu lebih terbirit-birit (ketika melihatmu), kata Yahya.

Mujahid pun kembali berpesan, ketika kita melihat bangsa jin (setan, memedi, makhluk halus, dll), janganlah kalian lari tunggang-langgang yang membuat kalian sendiri trauma. Tetapi, hadapilah dia akan pergi sendiri, ujarnya berpesan. Bagaimana, Anda berani berhadap-hadapan dengan setan?
Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko


MILITER-Soal Penyelundupan Senjata Pasukan Garuda di Sudan, Pengamat Intelijen: Perlu Diselidiki Serius Apa Ada Tujuan Makar

Soal Penyelundupan Senjata Pasukan Garuda di Sudan, Pengamat Intelijen: Perlu Diselidiki Serius Apa Ada Tujuan Makar

goaceh.co
Jan 23, 2017 4:00 PM
gonewsco_neazz_15486.jpg
Ilustrasi. (net)
JAKARTA - Pengamat Intelejen Wawan Purwanto menilai ditangkapnya Pasukan Garuda yang terdiri dari pasukan kepolisian sebagai penjaga perdamaian di Darfur, Sudan karena kasus penyelundupan senjata harus menjadi perhatian serius. Terlebih saat ini isu soal makar sedang ramai dibicarakan.
"Makar itu bisa secara agitasi untuk menggerakan massa dan juga bisa menggunakan senjata untuk menyerang dengan pemberontakkan.Makanya kasus ini harus diselidiki serius karena baisanya makar itu pelakukanya tidak sendirian," ujar Wawan di Jakarta, Senin (23/1/2017).
Dengan penyelidikan menurutnya akan diketahui kalau ada rencana makar siapa yang mengendalikan dan berada dibelakangnya."Ini aneh kalau ada pasukan yang membeli senjata dan berupaya menyelundupkannya.Untuk apa perlu diselidikan karena kalau untuk keperluan dinas, sudah ada jalurnya dan baik TNI ataupun polisi tidak kekurangan senjata seperti ini," tambahnya.
Menurut Wawan selama ini jalur pembelian senjata yang dilakukan baik oleh TNI dan Polri sudah ada jalur sendiri, baik langsung melalui proses goverment to goverment atau G to G, juga bisa melalui rekanan.Sementara yang dilakukan pasukan itu adalah penyelundupan dan pastinya hal itu tidak dilakukan resmi dan negara tidak melakukan hal seperti itu.
"Bisa juga kalau di embargo melalui pihak ketiga.Tapi yang jelas semua itu resmi dilakukan oleh institusi. Kalau menyelundupkan seperti ini jelas motifnya bukan untuk institusi, bisa saja untuk pribadi, pesanan atau mencari keuntungan.Intinya tujuannya bukan untuk tugas negara tapi keuntungan pribadi," tegasnya.
Oleh karena itu Wawan pun meminta agar ada penyelidikan serius dan tegas karena hal ini merupakan pelanggaran serius. "Mau sipil atau aparat negara kalau melanggar masalah senjata ini ada aturannya.Ada UU yang mengatur dan sanksinya tegas. Saya yakin akan ada sanksi karena ini pelanggaran berat dan ini akan terkuak setelah penyelidikan," paparnya.
Terakhir Wawan pun mengingatkan agar baik TNI ataupun Polisi lebih hati-hati dalam mengirimkan pasukan perdamaian. Jangan sampai nama baik Pasukan Garuda selama ini tercemar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab seperti ini. "Harus dievaluasi lagi, jangan sampai ini terjadi lagi karena ini sudah menjadi insiden internasional," tandasnya.
Pemerintah di Darfur Utara menyebutkan pasukan Indonesia yang tergabung dalam misi menjaga perdamaian campuran di Darfur (UNAMID) ditangkap pada Jumat (20/1) waktu setempat di bandara Al Fashir, Sudan. Mereka mencoba menyelundupkan senjata dan amunisi yang disamarkan, seperti mineral berharga.
Informasi dari the Sudanese Media Centre menyebutkan berbagai senjata dan amunisi yang diselundupkan meliputi 29 senapan Kalashnikov, 4 senapan, 6 senapan GM3 dan 61 berbagai jenis pistol, dan juga berbagai amunisi dalam jumlah besar.
UNAMID dikabarkan meluncurkan penyelidikan setelah mengetahui insiden itu. Kekuatan UNAMID Indonesia itu berangkat setelah menyelesaikan layanan dalam kerangka perubahan rutinitas.
Menurut pers Indonesia pada pekan lalu, Polri mengerahkan gugus tugas yang terdiri dari 140 personel untuk Darfur, sebagai bagian dari misi menjaga perdamaian untuk menggantikan tim sebelumnya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Misi campuran telah dikerahkan di Darfur sejak Desember 2007 dengan mandat untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil di wilayah Sudan barat itu. Ini adalah pasukan penjaga perdamaian internasional terbesar kedua dunia dengan anggaran tahunan 1,35 miliar dollar dengan hampir 20 ribu tentara.
Sudan, Uni Afrika dan PBB sejak dua tahun telah menyelenggarakan pembicaraan untuk mengeluarkan UNAMID dari Sudan Barat. Situasi keamanan stabil dan pemerintah telah berusaha membatasi kekerasan suku. Di mana sudah sukses dengan banyak orang pengungsi internal (IDP) yang memilih untuk kembali ke rumah asal mereka. ***


SEJARAH-Sejarah Hari Ini: Tentara Jepang Ditemukan 28 Tahun Bersembunyi di Hutan

Sejarah Hari Ini: Tentara Jepang Ditemukan 28 Tahun Bersembunyi di Hutan

republika.co.id
Jan 24, 2017 8:01 AM
Tentara Jepang Shoichi Yokoi (di kursi roda) bersembunyi selama 28 tahun tanpa menyadari Perang Dunia II telah usai.
Tentara Jepang Shoichi Yokoi (di kursi roda) bersembunyi selama 28 tahun tanpa menyadari Perang Dunia II telah usai.
REPUBLIKA.CO.ID, Seorang petani tak sengaja menemukan Shoichi Yokoi, seorang tentara Jepang di dalam hutan Guam pada 24 Januari 1972. Yokoi diketahui telah bersembunyi selama 28 tahun dan tidak menyadari Perang Dunia II telah berakhir.
Dilansir dari History, hutan Guam terletak di sebuah pulau seluas 200 mil persegi di Pasifik barat. Guam menjadi milik Amerika Serikat (AS) pada 1898 setelah Perang Spanyol-Amerika.
Pada 1941, Jepang menyerang dan merebutnya. Setelah tiga tahun pendudukan Jepang, pasukan AS merebut kembali Guam pada 1944.
Saat itu Yokoi ditinggalkan oleh pasukan Jepang yang mundur. Ia memilih bersembunyi daripada menyerah kepada Amerika.
Di hutan Guam, ia membuat sendiri alat-alat yang membantunya bertahan hidup yang kini dipajang di Museum Guam di Agana. Selama tiga dekade berikutnya, ia masih menunggu kembalinya Jepang dan menunggu perintah berikutnya dari militer Jepang.
Setelah ditemukan pada 1972, Yokoi akhirnya dikirim pulang ke Jepang dan dipuji sebagai pahlawan nasional. Dia kemudian menikah dan kembali ke Guam untuk berbulan madu.


INTERNASIONAL-Pemerintahan Trump Bersumpah Cegah Cina Kuasai Laut Cina Selatan

Pemerintahan Trump Bersumpah Cegah Cina Kuasai Laut Cina Selatan

republika.co.id
Jan 24, 2017 10:27 AM
Laut Cina Selatan
Laut Cina Selatan
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintahan Donald Trump bersumpah akan mencegah Cina mengambil alih perairan internasional di Laut Cina Selatan. Sumpah Trump ini tak disukai Cina. Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer memberikan tanda-tanda Amerika Serikat akan berhati-hati dalam menghadapi Cina yang  agresif ingin menguasai Laut Cina Selatan.
"Amerika akan melindungi kepentingan kami di sana," kata Spicer, Senin, (23/1).
Calon Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan, faktanya Laut Cina Selatan merupakan perairan internasional bukan bagian dari Cina. "Kami akan melindungi wilayah internasional agar tak diambil alih oleh Cina," ujarnya.
Amerika, kata Tillerson, akan  mengirimkan sinyal jelas kepada Cina agar berhenti membangun di pulau-pulau di Laut Cina Selatan. Akses kepada pulau-pulau itu juga akan dihentikan. Media Pemerintah Cina mengatakan, sikap Amerika semacam itu bisa menimbulkan perang dengan Cina.
Apalagi Cina sudah memiliki akses di pulau-pulau Laut Cina Selatan dan memiliki sistem persenjataan yang kuat di sana. Para pengamat mengatakan, sepertinya Amerika akan melakukan aksi militer seperti blokade laut kepada Cina.
Ini akan beresiko pada peningkatan konfrontasi militer dengan Cina. Selain itu juga akan memicu peningkatan kekuatan nuklir militer.


INTERNASIONAL-Ini Sosok Imam yang Membacakan Alquran ke Trump

Ini Sosok Imam yang Membacakan Alquran ke Trump

m.republika.co.id
Jan 24, 2017 10:47 AM
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON --  Dalam seremoni pelantikan presiden AS pekan lalu, Donald Trump ikut hadir saat doa bersama digelar para pemimpin agama.  Doa bersama yang diselenggarakan di Washington National Cathedral adalah tradisi selama bertahun-tahun. Di sana Donald Trump ikut mendengarkan ayat suci Alquran.
Lantas siapa yang membacakan ayat Alquran itu? Ia adalah Imam Mohamed Magid. Ia merupakan Direktur eksekutif All Dulles Area Muslim Society yang bermarkas di Sterling, Virginia.
Dari 2010 hingga 2014, Magid memimpin Islamic Society of North America. Ia juga pernah masuk dalam deretan tokoh 500 Muslim yang paling berpengaruh di dunia.
Ia juga menjabat sebagai Chairmanship of the Fairfax County Faith Commounities in Action. Ia aktif di George Mason University Campus Ministry.
Tak hanya itu, Magid  turut bergerak di lembaga strategis Muflehun yang fokus pada memerangi kekerasan ekstremis. Ia juga terlibat dalam beragam pelatihan imam.
Imam Magid telah menulis tiga buku di antaranya, “Before You Tie the Knot: A Guide for Couples” “Reflections on the Qur’an” dan “Change from within”.  Ia juga mendapat penghargaan Washingtonian of the Year 2009 dan Human Rights Award pada 2005,
Kehadirannya memang memicu kontroversi. Tak sedikit kalangan Muslim AS yang menyayangkan kehadiran Magid. 
Penolakan ini cukup beralasan mengingat beberapa retorika dan rencana kebijakan yang dibuat Trump dinilai merugikan Muslim Amerika.
Seperti dikutip CNN, Magid mengatakan, "Banyak orang datang dengan pandangan negatif terhadap Nabi Muhammad, dan setelah keterlibatan dan untuk mengenal Nabi, mereka mengubah pikiran dengan cara yang positif."
Dalam khutbahnya, Magid membacakan dua ayat Alquran yang berisi pesan-pesan politik untuk presiden baru dan pemerintahannya. Magid membacakan surah al-Hujarat dan ar-Rum.
Kedua ayat Alquran yang disampaikan Magid menceritakan tentang bagaimana Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai jenis bangsa, suku maupun warna kulit. Ayat ini dipilih mengingat meningkatnya insiden kebencian atas muslim dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Dewan All Dulles Area Muslim Society Rizwan Jaka mengatakan, pemilihan ayat Alquran yang dibacakan pada saat pelantikan telah disetujui oleh pejabat di Katedral Nasional Washington.
"Setelah pemilu, banyak hal yang dikatakan tentang Muslim, dan ada pertanyaan tentang kesetiaan Muslim. Ayat-ayat ini dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa kita harus datang bersama-sama dan menghormati keragaman. Tuhan menciptakan kita dalam keberagaman," ujar Rizwan Jaka seperti dilansir cnn.com, Senin (21/1).
Magid sejatinya akan mengumandangkan azan, tapi terjadi perubahan dan memilih membacakan Alquran. Namun, keberadaan Magid dalam acara pelantikan ini mendapat kritik dari beberapa Muslim Amerika. Mereka menyesali sikap Magid untuk ikut serta dalam lcara tokoh lintas agama tersebut.


Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sendang Kalangan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger